Rabu, 09 Januari 2013

Ambilkan Bulan (2012) / Bring Me the Moon (2012)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab atas penulisan naskah cerita film komedi Sule, Ay Need You yang dirilis beberapa waktu yang lalu – Ambilkan Bulan berkisah mengenai seorang gadis cilik berusia 10 tahun, Amelia (Lana Nitibaskara), yang merasa hidupnya selalu dirundung rasa kesepian semenjak wafatnya sang ayah (Agus Kuncoro). Rasa kesepian tersebut semakin diperparah dengan kesibukan sang ibu, Ratna (Astri Nurdin), yang sepertinya selalu memberikan jarak diantara hubungan keduanya. Tidak heran, ketika mendengar bahwa paman dan bibinya (Manu dan Harbani Setyowati Wibowo) yang berasal dari sebuah desa di Solo akan berkunjung ke Jakarta, Amelia merasa senang yang begitu luar biasa.

Oleh paman dan bibinya, Amelia kemudian diajak untuk berliburan ke desa. Ide ini awalnya ditolak oleh Ratna. Namun, tidak tahan melihat kesedihan puterinya, Ratna akhirnya membiarkan Amelia turut serta bersama paman dan bibinya kembali ke Solo. Sesampainya di Solo, Amelia bertemu dengan Ambar (Berlianda Adelianan Naafi), sepupunya yang selama ini hanya berhubungan dengannya melalui situs jejaring sosial Facebook. Ia juga bertemu dengan kakek dan neneknya (Adrian Simon dan Titi Dibyo) yang selama ini belum pernah ia jumpai. Liburan Amelia terasa semakin lengkap setelah mengenal beberapa anak lain di desa tersebut yang segera menjadi temannya. Walau begitu, ketika Amelia dan teman-teman barunya memutuskan untuk berpetualang ke sebuah hutan yang dikenal angker di desa tersebut, sebuah mimpi buruk bersiap untuk menjadi nyata bagi Amelia.

Jalan cerita mengenai sekelompok anak yang ketika masa liburannya kemudian menghadapi permasalahan pelik yang disebabkan oleh beberapa karakter antagonis – sambil diiringi dengan deretan adegan musikal – jelas bukanlah sebuah plot penceritaan yang benar-benar baru. Pun begitu, di tangan Ifa Isfansyah – yang tahun lalu sukses besar dalam mengarahkan Sang Penari yang menjadi salah satu film Indonesia terbaik dan paling banyak dibicarakan – plot cerita yang terasa begitu familiar tersebut mendapatkan beberapa sentuhan yang membuatnya terasa lebih segar. Sentuhan pertama berasal dari departemen visual yang melibatkan penggunaan animasi yang begitu mampu menyatu dengan jalan cerita film dan kemudian diperkuat dnegan penggunaan lagu-lagu karya AT Mahmud yang begitu mempesona.

Diarahkan oleh Edi Cahyono dan Kelik Wicaksono, penampilan dari efek visual yang hadir dalam jalan cerita Ambilkan Bulan mampu tampil begitu kuat dalam menerjemahkan dunia imajinasi yang diciptakan karakter Amelia dan membuatnya menyatu dengan padu bersama jalan cerita yang berlatarbelakangkan dunia nyata. Salah satu penggunaan efek visual animasi terbaik di industri film Indonesia. Sementara itu, deretan adegan musikal dalam Ambilkan Bulan diisi oleh lagu-lagu karya AT Mahmud yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh Lana Nitibaskara serta deretan kelompok musik dan penyanyi papan atas Indonesia. Penggunaan lagu-lagu AT Mahmud dalam Ambilkan Bulan terasa begitu cerdas dan mampu menghasilkan aliran emosional yang kuat dalam dalam beberapa adegan,

Terlepas dari kelebihan-kelebihan tersebut, naskah cerita Ambilkan Bulan yang ditulis oleh Jujur Prananto harus diakui memiliki cukup banyak kelemahan yang membuat penceritaan film ini tidak seluruhnya dapat berjalan dengan baik. Banyak dari karakter-karakter pendukung dan plot-plot kisah yang hadir dalam Ambilkan Bulan terasa terlalu mentah dan gagal untuk mendapatkan penggalian yang lebih dalam. Konflik-konflik yang dihadirkan juga kebanyakan tampil kurang kuat sehingga gagal untuk memberikan efek penceritaan yang seharusnya mampu membuat penonton lebih merasa dilibatkan dalam jalan cerita film ini. Naskah cerita Ambilkan Bulan terasa cukup lemah dan jika tanpa kehadiran lagu-lagu AT Mahmud tadi, mungkin film ini akan terasa begitu hampa dalam penyampaiannya.

Para jajaran pengisi departemen akting film ini sendiri mampu menghadirkan penampilan terbaik mereka. Lana Nitibaskara memiliki kemampuan akting yang cukup mumpuni. Walaupun begitu, Lana harus diakui masih belum memiliki kharisma yang cukup kuat untuk ditempatkan sebagai bintang utama. Ini yang menyebabkan mengapa ketika dalam beberapa adegan, ketika Lana hadir dengan dampingan beberapa pemeran lain, maka kehadiran Lana lebih terasa minimalis jika dibandingkan pemeran lainnya tersebut. Diantara pemeran cilik yang hadir, Bramantyo Suryo Kusumo yang memerankan karakter Kuncung berhasil tampil mencuri perhatian  dengan dialog-dialognya yang terasa begitu lugu dan menghibur.

Secara keseluruhan, terlepas dari segala kekurangannya – yang kebanyakan berasal dari naskah cerita yang kurang mampu berkembang di beberapa sudut cerita, adalah sangat sulit untuk tidak menyukai Ambilkan Bulan. Diantara sekian banyak film Indonesia yang ditujukan untuk anak-anak, Ambilkan Bulan mampu tampil menonjol dengan unsur hiburan dan nilai pendidikan yang benar-benar sesuai dengan karakter dan usia mereka. Di sepanjang penceritaannya, Ambilkan Bulan tidak mencoba untuk menghadirkan sebuah topik bahasan yang melampaui usia target penontonnya serta tidak pernah berusaha terlihat tampil dangkal dalam menampilkan unsur hiburannya. Presentasi yang kuat dari lagu-lagu karya AT Mahmud semakin mampu membungkus Ambilkan Bulan menjadi sebuah sajian film keluarga yang cukup unggul.

   Rating IMDB     :  -/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  28 June 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Lana Nitibaskara, Agus Kuncoro
   Genre               :  Drama | Musical
   Size                  :  350MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-350MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------




Soegija (2012)

Apa yang akan Anda harapkan dari sebuah film yang berjudul Soegija – atau film-film yang menggunakan nama salah satu karakter dalam cerita sebagai judul filmnya? Tentu saja, jawaban paling sederhana adalah Anda akan mengharapkan karakter tersebut menjadi tumpuan utama cerita dimana para penonton akan diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat siapa karakter tersebut dan kemungkinan besar akan menjadi karakter utama dalam pengisahan jalan cerita film tersebut. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada Soegija. Lewat press release dan beberapa konferensi pers yang diadakan oleh Garin Nugroho dalam rangka memperkenalkan film ini, ia berulangkali mengungkapkan bahwa Soegija bukanlah sebuah film biografi. Soegija lebih bercerita mengenai sifat nasionalisme sang karakter dan perjuangannya dalam membantu perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan – lewat cara diplomasi – melalui deretan karakter yang hadir dalam cerita film ini. Dan memiliki porsi yang jauh lebih banyak daripada sang karakter yang namanya dijadikan judul film.

Jelas bukan kesalahan penonton jika kemudian mereka menganggap Soegija adalah sebuah kesalahan penceritaan yang fatal, dimana mereka mengenal seorang karakter bernama lengkap Albertus Soegijapranata yang merupakan seorang penganut Katolik pribumi Jawa pertama yang diawal tahun ‘40an diangkat langsung oleh Vatikan sebagai seorang uskup, hanya melalui adegan naratif yang terletak di awal film. Soegija sama sekali tidak memberi kesempatan bagi penontonnya untuk mengenal siapa seorang Soegijapranata sebenarnya, mengapa Vatikan sampai memilihnya sebagai seorang uskup, bagaimana ia menggunakan posisi tersebut untuk membantu para warga disekitarnya atau bagaimana cara pandang seorang Soegijapranata dalam berdiplomasi dan membantu Republik Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya. Sekali lagi, Soegija tidak pernah memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengenal siapa karakter pahlawan nasional ini lewat jalan penceritaannya.

Baiklah. Mari kesampingkan keanehan pemilihan judul yang sangat jauh melenceng dari jalan cerita yang dihadirkan. Garin ingin menghadirkan Soegija sebagai sebuah paparan mengenai sebuah periode dalam kehidupan Soegijapranata yang didalamnya mengandung nilai-nilai kepahlawanan, nasionalisme dan multikultural yang diwakili lewat deretan kisah karakter-karakter lain yang hadir di sepanjang film yang berudrasi 115 menit ini. Selain karakter dan sekelumit kisah Soegijapranata yang diperankan – dengan sangat tidak mengesankan – oleh Nirwan Dewanto, Soegija juga berisi kisah dari karakter-karakter lain seperti Mariyem (Annisa Hertami) yang terpisahkan dengan sang kakak, Maryono (Muhammad Abbe), akibat peperangan yang berkecamuk; hubungan persahabatan (yang menjurus romansa) antara Mariyem dengan seorang wartawan Belanda, Hendrick van Maurick (Wouter Braaf); seorang tentara Belanda yang rasis, Robert (Wouter Zweers); seorang gadis Tionghoa, Ling Ling (Andrea Reva), yang berpisah dari ibunya (Olga Lydia); seorang warganegara Jepang misterius, Nobuzuki (Nobuyuki Suzuki); seorang penyiar berita radio, Pak Besut (Margono) serta seorang gerilyawan terbelakang, Banteng (Andriano Fidelis). Semua karakter ini dan kisah yang terjadi pada mereka berlatar belakang Indonesia di masa transisi antara penjajahan Belanda dengan penjajahan Jepang yang kemudian diwarnai dengan masa kemerdekaan sebelum pihak Belanda akhirnya kembali melakukan agresi militer.

Dengan deretan karakter diatas, dan kisah-kisah mereka, jelas Soegija bukanlah sebuah film yang akan mampu mengangkat dan membahas satu karakter secara utuh. Garin memaksudkan agar kisah-kisah dari para karakter tersebut mewakili segala perjuangan dan sifat karakter Soegijapranata dalam perjuangannya. Dan gagal. Satu per satu kisah dan karakter tersebut dihadirkan secara bergantian tanpa pernah mendapatkan eksplorasi kisah dan karakterisasi yang mendalam. Penonton seperti dibingungkan oleh karakter mana yang harus menjadi fokus perhatian karena tidak ada satupun diantara karakter maupun kisah tersebut tampil prima dan menarik. Kedangkalan inilah yang kemudian menyebabkan Soegija terasa miskin akan aliran emosional.

Jelas, orang yang paling patut dipertanyakan (baca: dipersalahkan) adalah mereka yang berada di balik penulisan naskah film ini, Garin Nugroho sendiri yang dibantu dengan Armantono – yang mungkin telah Anda benci secara tidak sadar lewat karya-karyanya seperti Love is Cinta (2007), Love Story (2011) dan Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011). Garin dan Armantono sepertinya tidak tahu apa yang persisnya mereka inginkan untuk film ini. Jalan cerita Soegija terombang-ambing antara satu karakter dengan karakter lainnya yang kemudian dijalin dengan kata-kata mutiara yang dituliskan oleh Soegijapranata maupun deretan adegan komedi antara karakter tersebut dengan asisten setianya, Toegimin (Butet Kartaredjasa). Ini masih ditambah dengan kecenderungan Armantono untuk menghadirkan adegan bernuansa cheesy lewat deretan adegan kematian, perpisahan, kesedihan atau tangisan yang mewarnai Soegija.

Bagian-bagian Soegija yang dapat melangkah keluar dengan kepala tegak atas hasil film ini hanyalah bagian-bagian teknikal film. Departemen artistik dan kamera berhasil menciptakan sebuah pemandangan Indonesia di era ’40 dan ‘50an yang begitu indah dan autentik. Tata musik arahan Djaduk Ferianto juga merupakan bagian lain yang mampu menghasilkan kualitas kelas atas. Sementara itu, departemen akting film ini tidak terlalu berhasil dalam menghantarkan peranannya. Selain Nirwan Dewanto yang tampil begitu kaku dan tanpa kharisma, pemeran-pemeran lain tampil dengan kemampuan akting yang terlalu teatrikal sehingga seringkali terasa kurang alami dan berlebihan pada kebanyakan adegan.

Mengapa seorang sutradara yang dikenal berani seperti Garin Nugroho tidak lantas membuat Soegija sebagai sebuah film biografi dimana ia dapat mengenalkan sang karakter tersebut, sifat-sifat, pemikiran sekaligus perjuangannya bagi masyarakat Indonesia secara lebih mendalam? Mungkin pertanyaan tersebut hanya akan menjadi sebuah misteri. Namun, hasil akhir Soegija jelas merupakan sebuah kekecewaan yang mendalam. Karakter Soegijapranata hanya dihadirkan sebagai sesosok dengan pemikiran dan kebijaksanaan mendalam tanpa pernah ditampilkan secara gamblang dan kuat. Apakah penonton diharapkan untuk memberikan rasa hormat dan kagum mereka hanya melalui rangkaian kata-kata mutiara dan bijaksana Soegijapranata yang dihadirkan di sepanjang film? Sementara itu, karakter-karakter lain juga turut hadir dalam rangkaian kisah dan karakter yang benar-benar dangkal. Setelah Mata Tertutup yang cerdas, kuat dan berani di awal tahun, Soegija jelas adalah sebuah hasil yang sangat, sangat mengecewakan.

   Rating IMDB     :  6.6/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  7 June 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Nirwan Dewanto, Annisa Hertami
   Genre               :  Drama | History | War
   Size                  :  450MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-450MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------




Jumat, 04 Januari 2013

Perahu Kertas 2 (2012)

Membagi sebuah penceritaan film menjadi dua bagian jelas bukanlah sebuah hal yang baru di industri film dunia. Beberapa franchise besar yang mendasarkan kisahnya dari sebuah novel – seperti Harry Potter, The Twilight Saga sampai The Hobbit – telah (atau dalam kasus The Hobbit, akan) melakukannya dengan dasar alasan bahwa agar seluruh detil dan konflik yang ada di dalam jalan cerita dapat ditampilkan dengan baik. Tentu saja, mereka yang skeptis akan berpendapat bahwa keputusan tersebut diambil tidak lebih hanyalah karena alasan komersial belaka – dibuat agar rumah produksi dapat meraih keuntungan dua kali lebih besar dari satu material cerita yang sama. Well… beberapa pendapat skeptis tersebut mungkin saja benar. Namun, bagaimanapun, ketika berada di tangan sutradara yang tepat, sebuah material cerita yang memang sengaja diperpanjang akan setidaknya mampu tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi penonton untuk menyaksikannya.

Lalu bagaimana dengan Perahu Kertas 2? Harus diakui, menempatkan Dewi Lestari untuk mengadaptasi sendiri novel yang ia tulis menjadi sebuah naskah cerita film – khususnya mengingat bahwa ia sama sekali belum pernah melakukan hal tersebut sebelumnya – adalah bagai memegang pisau bermata dua. Di satu sisi, Dewi Lestari jelas adalah satu-satunya orang yang tahu secara mendalam mengenai jiwa dari setiap lekuk cerita maupun karakter yang ia hadirkan dalam Perahu Kertas. Di sisi lain, kurangnya pengalaman Dewi Lestari dalam menggarap sebuah naskah cerita film dapat saja membuatnya terkesan ragu dalam merampingkan beberapa bagian cerita dari Perahu Kertas yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan untuk dihamparkan dalam penceritaan versi film dari novel tersebut. Apa yang terpapar pada Perahu Kertas 2, sayangnya, justru membuktikan kelemahan tersebut.

Menyambung kisah yang terputus pada Perahu Kertas, setelah sekian lama tidak bertemt dan saling tidak berhubungan satu sama lain, Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) kembali dipertemukan pada pesta pernikahan sahabat mereka, Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully R). Pertemuan tersebut tidak dapat disangkal mampu mencairkan kembali hubungan antara Kugy dan Keenan yang telah lama membeku. Akibat momen itu pula, Kugy kembali menemukan hasratnya untuk menjadi seorang penulis buku dongeng – dengan bantuan Keenan yang akan menggambarkan ilustrasi dari setiap cerita yang ia tuliskan.

Namun, membaiknya kembali hubungan antara Kugy dan Keenan jelas memberikan dampak yang dalam terhadap hubungan cinta yang mereka jalin terhadap kekasih masing-masing, Remi (Reza Rahadian) dan Luhde (Elyzia Mulachela). Secara perlahan, jarak mulai tercipta antara hubungan Kugy dan Remi serta Keenan dan Luhde, khususnya ketika Remi dan Luhde masing-masing mulai menyadari bahwa jiwa pasangannya telah tidak berada dalam hubungan kasih yang sedang mereka jalin. Di saat yang sama, hubungan antara Kugy dan Keenan tidak lantas berjalan mulus. Keenan lebih memilih untuk mengikhlaskan Kugy untuk memilih jalan hidupnya sendiri… sebuah keputusan yang jelas kemudian membuat hati Kugy begitu terombang-ambing atas perasaannya sendiri, baik kepada Keenan maupun Remi.

Berbeda dengan  Perahu Kertas yang penceritaannya ditata dengan sedemikian rupa untuk mampu memberikan atmosfer kisah romansa remaja yang kuat kepada para penontonnya, Perahu Kertas 2 terkesan digarap dengan begitu terburu-buru. Pergolakan asmara yang terjalin antara karakter Kugy dan Keenan terkesan ditampilkan saling berhimpitan dengan kisah romansa sekunder – kisah asmara antara karakter Kugy dan Remi serta kisah asmara antara Keenan dan Luhde – yang ingin dihadirkan dalam jalan cerita film ini. Hasilnya, tatanan kisah romansa yang begitu rapi dan manis yang dapat dirasakan dalam Perahu Kertas terasa buyar begitu saja dalam penceritaan bagian keduanya. Hal ini pula yang kemudian membuat tak ada satupun dari kisah romansa yang coba dihadirkan dalam Perahu Kertas 2 mampu bekerja secara efektif.

Perahu Kertas 2 sendiri tidak murni hanya menceritakan kisah cinta yang terjalin antara keempat karakter utamanya. Di bagian penceritaan lain, Perahu Kertas 2 juga memberikan porsi cerita bagi kisah hubungan ayah dan anak antara Keenan dengan ayahnya, Adri (August Melasz), penguakan mengenai masa lalu yang terjalin antara Lena (Ira Wibowo) dan Pak Wayan (Tio Pakusadewo), rasa cinta karakter Banyu (Qausar Harta Yudana) kepada karakter Luhde serta rasa cemburu yang selama ini dipendam oleh Sisca (Sharena) ketika menyaksikan hubungan cinta karakter Kugy dan Remi. Seperti halnya plot kisah asmara utama dari film ini, kisah-kisah pendamping ini juga terkesan hadir sebagai tempelan belaka dengan tidak satupun diantara kisah ini mampu tampil dan berkembang dengan sempurna. Jelas sebuah hal yang sangat disayangkan.

Hal lain yang juga sangat terasa hilang dari jalan cerita Perahu Kertas 2 adalah kekuatan chemistry yang tercipta antara jajaran pemerannya. Mungkin hal ini adalah efek sampingan dari pemutusan kisah di Perahu Kertas yang kemudian dengan serta merta dilanjutkan begitu saja oleh Hanung Bramantyo di bagian kedua tanpa memberikan kesempatan bagi penonton untuk berusaha mengenal kembali karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita Perahu Kertas. Namun yang jelas, mereka yang mengharapkan hangatnya hubungan persahabatan antara karakter Kugy, Keenan, Eko dan Noni yang begitu cemerlang di Perahu Kertas harus bersiap-siap kecewa dengan Perahu Kertas 2 – dimana karakter Eko dan Noni yang banyak mencuri perhatian di seri sebelumnya juga kehilangan banyak bagian cerita di seri kali ini.

Walau dengan kelemahan-kelemahan diatas, Perahu Kertas 2 tetap masih sanggup memberikan banyak momen yang menyenangkan di dalam jalan penceritaannya. Jajaran pengisi departemen akting film ini masih mampu memberikan penampilan terbaiknya – khususnya Reza Rahadian yang selalu berhasil memberikan energi lebih dalam setiap kehadirannya. Dialog-dialog romansa yang dirangkai oleh Dewi Lestari masih mampu memberikan daya tariknya tersendiri. Begitu juga dengan kualitas gambar yang dihasilkan oleh Faozan Rizal serta tata musik arahan Andhika Triyadi – yang benar-benar tampil gemilang mengisi kekosongan emosional pada banyak elemen cerita di film ini – masih mampu membuat Perahu Kertas 2 tampil begitu manis.

Sangat mengecewakan untuk melihat kualitas presentasi keseluruhan dari Perahu Kertas 2. Setelah tampil menjanjikan sebagai sebuah drama romansa yang mampu tampil begitu manis di bagian pertamanya, Perahu Kertas 2 justru kemudian hadir dengan jalan cerita yang cenderung terkesan medioker, kehilangan fokus pada begitu banyak bagian dan cenderung datang dengan kehampaan sisi emosional cerita. Secara sederhana, Perahu Kertas 2 terlihat bagai diarahkan oleh orang-orang yang sama sekali berbeda dan dieksekusi dalam tempo yang begitu terburu-buru. Hasilnya, Perahu Kertas 2 gagal untuk menciptakan daya tarik yang sama seperti film pendahulunya. Jelas bukanlah salah satu momen terbaik dalam karir penyutradaraan seorang Hanung Bramantyo – bahkan dapat dikategorikan sebagai salah satu karya terburuknya. Sebuah kompromi komersial yang, sayangnya, berujung dengan kegagalan.

   Rating IMDB     :  -/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  4 Oktober 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Reza Rahadian, Maudy Ayunda
   Genre               :  Drama
   Size                  :  450MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-450MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------




Radio Galau FM (2012)

Karena satu dan lain hal, sebuah film yang berjudul Radio Galau FM sama sekali tidak berkisah maupun menyinggung mengenai kehidupan di dunia radio. Satu-satunya hal yang berkaitan dengan radio di film ini adalah ketika karakter utamanya mendengarkan sebuah program radio yang penyiarnya berusaha untuk mengumpulkan para pendengarnya yang sedang mengalami kegalauan hati. Radio Galau FM justru merupakan sebuah drama komedi romantis yang berorientasi pada kehidupan percintaan di usia remaja yang dialami para karakternya. Menjadi remaja – suatu periode ketika manusia sedang berusaha mencari jati dirinya – memang bukanlah sebuah proses yang mudah untuk dijalani. But seriously… apakah romansa di kalangan remaja modern memang semengerikan apa yang digambarkan di dalam film ini?

Bara Mahesa (Dimas Anggara) adalah karakter utama dalam jalan cerita Radio Galau FM ini. Sosok pemuda pelajar sekolah menengah atas ini memiliki penampilan fisik cukup lumayan namun sayangnya memiliki riwayat percintaan yang tidak begitu menyenangkan. Setelah tiga tahun tidak memiliki kekasih – dan selalu merasa uring-uringan karenanya, Bara kemudian berkenalan dengan adik kelasnya yang bernama Velin Caliandra (Natasha Rizki). Singkat cerita, dari awalnya berteman, Bara akhirnya merasa bahwa Velin adalah sosok yang sempurna untuk menjadi kekasihnya. Bara dan Velin kemudian resmi pacaran. Sayangnya… setelah beberapa saat, Bara mulai menyadari kalau Velin tidak sesempurna yang ia bayangkan.

Hubungan Bara dengan Velin semakin menjauh ketika Bara mengenal kakak kelasnya yang bernama Diandra Pramita (Alisia Rininta). Seperti halnya Bara, Diandra sedang mengalami masalah dalam kehidupan percintaannya. Ia menganggap kekasihnya, yang merupakan seorang mahasiswa, tidak pernah mampu mengerti akan dirinya. Merasa senasib, Bara dan Diandra akhirnya menjadi sepasang kekasih – terlepas dari fakta bahwa mereka masing-masing juga masih memiliki pasangan masing-masing. Sial bagi Bara, Diandra juga tidak sesempurna yang ia bayangkan. Akhirnya, kini Bara terjebak dalam kegalauan perasaan diri sendiri atas berbagai problematika romansa yang ia alami.

Radio Galau FM sendiri diadaptasi dari buku berjudul sama karya Bernard Batubara yang berisi kumpulan cerita pendek bertemakan kegalauan hati (baca: kerisauan hati – jika Anda masih asing dengan kata galau) penulisnya ketika berhadapan dengan berbagai problema cinta. Sama seperti Poconggg Juga Pocong (2011), cerita-cerita pendek yang terangkum dalam buku Radio Galau FM sendiri terinpirasi dari kumpulan tweet bertema sama yang dikaryakan oleh Bernard melalui akun Twitter-nya @RadioGalauFM yang telah memiliki puluhan ribu followers tersebut. Radio Galau FM mungkin dimaksudkan sebagai sebuah film drama komedi romansa yang mampu menangkap berbagai fenomena percintaan yang terjadi kalangan remaja modern. Alih-alih menjadi sebuah film dengan kesan romansa yang hangat, Radio Galau FM justru terkesan datar dalam penceritaan dramanya yang mengekploitasi kisah drama percintaan remaja yang dilakukan secara berlebihan serta diisi dengan sifat karakter-karakter yang begitu mengganggu.

Beberapa orang mungkin akan berargumen bahwa karakter-karakter yang dihadirkan dalam Radio Galau FM adalah deretan karakter yang sesuai dengan sikap kaum remaja saat ini – khususnya ketika berkaitan dengan masalah percintaan. Namun tetap saja, perubahan-perubahan sikap yang dialami karakter Velin dan Diandra, misalnya, setelah mereka menempuh masa berpacaran dengan karakter Bara, lebih cenderung terlihat sebagai klise dan mengada-ada daripada sebagai gambaran remaja modern yang akurat. Karakter Bara, yang seharusnya mendapatkan rasa simpati dari penonton atas berbagai perjuangan dan masalah cinta yang ia alami, juga mengalami perubahan sikap dan karakter mendadak di pertengahan film. Bara yang seharusnya menjadi romantic hero justru berubah menjadi sosok plin-plan yang akhirnya justru menelan karma percintaannya sendiri. Penggambaran sikap remaja modern? Boleh saja. Namun rasa kesulitan untuk memiliki hubungan emosional terhadap para karakter dalam sebuah jalan cerita jelas bukan sebuah hal yang dapat diabaikan begitu saja.

Setidaknya, karakter-karakter dalam Radio Galau FM setidaknya mampu dibawakan dengan baik oleh para jajaran pemerannya. Dimas Anggara jelas belum memiliki daya tarik yang kuat untuk diletakkan di garda terdepan penampilan sebuah film. Walau begitu, Iqbal Rais mampu membuat Dimas mengeluarkan penampilan terbaiknya untuk tampil sebagai karakter utama. Hal yang sama juga berlaku bagi dua pendamping Dimas,  Natasha Rizki dan Alisia Rininta. Yang paling mampu mencuri perhatian jelas adalah penampilan Joehana Sutisna yang berperan sebagai karakter ayah Bara. Kehadirannya dalam setiap adegan mampu tampil begitu komikal dan memancing hiburan yang maksimal.

Radio Galau FM memiliki kualitas produksi yang jelas tidak mengecewakan, baik dari segi tata audio maupun visual. Andhika Triyadi, sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya adalah seorang komposer musik yang sangat mampu meracik tatanan musik yang mampu mengisi kekosongan emosional sebuah jalinan cerita. Tata musik Andhika sendiri tidak semaksimal yang ia tampilkan dalam Hari Untuk Amanda (2010) maupun Perahu Kertas (2012). Namun sangatlah jelas terasa bahwa ketika komposisi musik arahan Andhika mulai menyeruak diantara jalinan cerita, Radio Galau FM berhasil muncul menjadi sebuah presentasi cerita yang lebih baik.

Mungkin Radio Galau FM bekerja secara berbeda bagi mereka yang memang menjadi target penonton utama dari film ini. Pun begitu, tidak dapat disangkal bahwa – terlepas dari kemampuan Haqi Achmad sebagai penulis naskah film dalam meramu dialog-dialog romansa cheesy menjadi begitu menghibur serta keberhasilan Iqbal Rais dalam mengarahkan para pemainnya serta kualitas produksi film ini secara keseluruhan – Radio Galau FM memiliki kelemahan yang begitu besar pada jalinan ceritanya yang dangkal dan klise serta karakter-karakter yang jauh dari kesan mudah untuk disukai. Bukanlah sebuah presentasi yang buruk, namun jelas masih jauh dari kualitas yang istimewa.


   Rating IMDB     :  7.8/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  13 September 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Dimas Anggara, Natasha Rizki
   Genre               :  Comedy | Drama
   Size                  :  350MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-350MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------





 
Copyright 2010 Download Film Indonesia Mediafire dan IDWS. All rights reserved.
Themes by Dhianphutra l Home Recording l Distorsi Blog